• Three Angels Media

Bagian 9 : Argumen-Argumen Anti-Sabat: Apakah mereka Benar ?


"Sabat hanya untuk Israel": Beberapa mengutip kata-kata berikut untuk membuktikan bahwa hari Sabat diberikan sebagai tanda antara Allah dan Israel saja, tetapi bukan untuk Gereja: 13Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun,... 17Antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat.” Keluaran 31:13, 17.

Pertama, perhatikanlah bahwa Tuhan menyebut hari Sabat sebagai "hari-hari Sabat-KU," bukan hari Sabat-mu/hari Sabat Israel. Kedua, hari Sabat akan bertaham ‘Selama-lamanya." Ketiga, alasan Tuhan untuk memberi hari Sabat kembali ke Masa Seminggu Penciptaan (lihat Kejadian 1;2:1-3), jauh sebelum Israel/orang Israel ada. Jadi hari Sabat adalah Hari Tuhan, berlangsung selamanya, dan didirikan sebelum ada orang Yahudi. Yesaya kemudian mengatakan bahwa orang-orang bukan Yahudi yang bergabung dengan orang-orang Yahudi juga memelihara hari Sabat. Yesaya 56: 6,7. Paulus menulis ini kepada bangsa-bangsa lain: "Jika kamu adalah milik Kristus, maka kamu adalah keturunan Abraham." Galatia 3:29. Menurut Perjanjian Baru, bangsa-bangsa lain "dicangkokkan" (Roma 11:17) dan menjadi bagian dari Israel. Oleh karena itu, hari Sabat menjadi tanda bagi mereka juga. Orang-orang bukan Yahudi di dalam kitab Kisah Para Rasul mememelihara hari Sabat. Lihat Kisah Para Rasul 13:42-44. Sepuluh Perintah berlaku untuk semua orang, bukan hanya untuk orang Yahudi (lihat Roma 3:19). Kata "Yahudi", atau kata "Israel" tidak ditemukan dalam Sepuluh Perintah Allah.

Apakah Sabat hari ketujuh sama dengan "hari Sabat yang merupakan bayangan dari apa yang akan datang" dalam Kolose 2: 14-17 ?: Ini adalah salah satu bagian ayat yang paling disalahpahami dalam Perjanjian Baru. Perhatikan konteksnya: Paulus menulis, "Menghapus tulisan tangan tentang tata cara yang melawan kita…..memakukannya di kayu salib" (ayat 14, KJV). "Tulisan tangan tentang tata cara-tata cara" yang "dihapuskan" dan dipakukan di kayu salib bukanlah mengenai Sepuluh Perintah Allah, yang tidak ditulis oleh tangan manusia/siapa pun, tetapi Sepuluh Perintah ditulis dengan "jari Allah" (lihat Keluaran 31:18). Tata cara yang dihapus adalah hukum upacara, dengan pengorbanan binatang, yang ditulis oleh tangan Musa. "Tulisan tangan" ini adalah saksi terus-menerus "melawan" Israel (lihat Ulangan 31: 24-26) karena keberadaan hukum tata cara/upacara pengorbanan binatang tersebut memberi kesaksian bahwa Israel telah melanggar Sepuluh Perintah Allah. Itu sebabnya mereka perlu mengorbankan anak domba. Ketika Yesus mati, seluruh tata cara sistem pengorbanan upacara ini "dihapuskan."

"Oleh karena itu," tulis Paulus dalam Kolose 2:16, "Jangan ada orang menghakimi kamu dalam daging atau minuman, atau mengenai suatu hari-hari suci, atau bulan baru atau hari-hari Sabat (the sabbath days—plural/jamak KJV) : yang merupakan bayangan dari apa yang akan datang "Ayat 16,17."Daging, minuman, hari-hari suci, bulan baru dan "hari-hari Sabat" yang disebut dalam teks ini adalah tujuh hari raya Yahudi tahunan (Paskah, Hari Pendamaian, hari raya Roti tidak beragi, hari raya Pondok Daun, dll.) Dengan melibatkan "persembahan daging" dan "korban minuman" (lihat Imamat 23:37,38). Hari-hari raya Yahudi tahunan tersebut, juga dengan persembahan darah binatang, itu semua juga disebut "hari sabat" (lihat Im 23:24, 32, 37, 38), namun sangat berbeda dari “hari ketujuh Sabat di masa penciptaan” yang ada dalam perintah keempat.

Paulus menyebut "sabat-sabat" (jamak) tahunan itu sebagai "bayangan" karena upacara dan pengorbanan mereka “menunjuk kedepan” kepada Yesus dan Pelayanan-Nya dan dihapuskan saat Yesus mati di kayu salib menebus dosa, sementara Hari Ketujuh Sabat “menunjuk kebelakang” ke masa penciptaan sebelum manusia jatuh dalam dosa. Ibrani 10:1 secara khusus menyatakan bahwa itu adalah hukum upacara, yang ditulis oleh tangan Musa, dengan korban tahunan dan pengorbanan darah yang merupakan "bayangan", hal ini tidak termasuk Sepuluh Perintah Allah. Karena jangan membunuh, mencuri, berzinah yang termasuk dalam 10 hukum masih ditaati oleh orang yang mengasihi Dia.

Sepuluh Perintah Tuhan sama sekali bukan bayangan. 10 Hukum “tidak menunjuk kedepan”, tapi mengungkapkan standar karakter Allah bagi umat manusia. Sabat hari ketujuh dari perintah keempat juga bukan tipe ataupun bayangan, karena bukannya menunjuk ke depan untuk kematian Yesus, tapi sebaliknya “menunjuk kebelakang” pada Minggu penciptaan. Lihat Kel. 20: 8-11 Tidak pernah berubah, tetap ada dalam Perjanjian Baru, bahkan tetap dipelihara setelah Yesus di salib. Lihat Lukas 23:56. Paulus terus memelihara hari Sabat ini. Lihat Kisah Para Rasul 16:13.

Pendiri Gereja Metodis John Wesley menyatakan kebenaran saat dia menulis: "Tulisan tangan tentang tata cara-tata cara ini , yang memang Tuhan kita hapuskan, dikeluarkan, dan dipaku di salib-Nya (Kolose 2:14). Tetapi Hukum moral yang terkandung dalam Sepuluh Perintah Allah, dan ditegakkan oleh para nabi, Yesus tidak mengeluarkannya ... Hukum moral berdiri di atas dasar yang sama sekali berbeda dari hukum upacara atau ritual ... Setiap bagian dari hukum ini harus tetap berlaku bagi semua umat manusia dan di segala usia. "John Wesley, Sermons on Several Occasions, 2-Vol. Edition, Vol. I, pages 221-222.

Bagaimana dengan "Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. (Roma 14: 5)? Banyak orang menerapkan ini untuk mematuhi hari Sabat atau mematuhi hari Minggu, tapi ini tidak benar. Tidak ada sama sekali kata Hari Sabat atau Hari Minggu di seluruh pasal ini. Pasal ini dimulai, Terimalah orang yang lemah imannya tapi tidak kepada perbedaan yang meragukan. Roma 14: 1 (KJV). NKJV berbunyi, "mempersoalkan hal-hal yang meragukan." Jadi, konteks awal Roma 14 adalah "hal-hal yang meragukan, dan bukan merupakan pembahasan tentang Sepuluh Perintah Allah atau Sabat. Sepuluh Perintah tidak “meragukan” tapi sangat jelas, ditulis dengan jari Tuhan di atas dua loh batu.

Saudara yang "lemah" itu "makan" beberapa hal dan "menganggap hari yang satu lebih penting dari hari yang lain" sementara saudara yang kuat percaya bahwa dia dapat "memakan segala sesuatu" dan "menghargai setiap hari sama". Roma 14: 2,5. Gereja mula-mula terdiri dari orang-orang percaya Yahudi dan orang-orang bukan Yahudi yang bertobat. Meskipun Paulus tidak menyebutkan "hari" yang dimaksudkannya, dia mungkin sedang membicarakan hari raya Yahudi atau hari puasa Yahudi (Lukas 18:12), dan beberapa hari raya penyembahan berhala tertentu ketika orang-orang "memakan barang-barang yang dipersembahkan dalam pengorbanan Kepada berhala. "1 Korintus 8: 4.

Dalam hari raya penyembahan berhala seorang Yahudi yang "kuat" yang tahu bahwa "berhala bukanlah apa-apa" dan yang lapar tidak akan keberatan untuk makan "daging di kuil berhala." Lihat 1Kor 8:4,10. Paulus memperingatkan orang-orang percaya Yahudi yang "kuat" ini, "Tetapi perhatikanlah, jangan sampai kebebasan ini menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah (orang bukan Yahudi yang beralih dari penyembahan berhala menjadi orang percaya). 10Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai “pengetahuan”, sedang duduk makan di dalam kuil berhala (di hari raya penyembahan berhala), bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala? 11Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena “pengetahuan”mu. [jika dia jatuh kembali ke penyembahan berhala]. Tetapi jika kamu berbuat dosa terhadap saudara-saudara, dan melukai hati nurani mereka yang lemah, kamu berbuat dosa terhadap Kristus. Karenanya, jika makan daging membuat saudaraku tersinggung, aku tidak akan memakan daging sementara dunia berdiri."1 Korintus 8: 9-13 KJV.

TIDAK ADA BUKTI baik dalam Roma 14 atau 1 Korintus 8 (referensi paralel) bahwa diskusi tentang "yang lemah" dan “yang kuat” ada kaitannya dengan hari Sabat. Tuhan tidak pernah berkata, "Yang seorang dapat menganggap lebih penting untuk menghargai Hari Sabat-Ku, sementara orang lain dapat memilih untuk menghormati hari Minggu, atau Selasa, atau setiap hari sama." Dia tidak menyerahkannya kepada kita untuk "memilih hari, kapan saja".Sebaliknya, Dia dengan jelas memerintahkan,"Ingatlah hari Sabat untuk menjaganya tetap suci ... hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu. "Keluaran 20:8,10. Kitab Roma yang sama sangat jelas,"oleh hukum Taurat Adalah pengetahuan tentang dosa. "Roma 3:20; 7: 7, 12 KJV. Tidak ada keraguan tentang Hukum Allah.

"Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tententu, bulan-bulan, dan waktu-waktu dan tahun-tahun. Aku kuatir kepada Anda "(Galatia 4:10,11 KJV): Sungguh menakjubkan bahwa beberapa orang menerapkan kata-kata Paulus kepada hari Sabat, namun tidak pernah menerapkannya ke hari Minggu. Seperti Roma 14, dengan membaca lebih teliti teks tersebut akan mengungkapkan bahwa Paulus tidak berbicara tentang hari Sabat atau hari Minggu. Konteksnya mengacu pada kehidupan penyembahan masa lalu dari orang-orang Galatia yang telah bertobat: 8 Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. 9 Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? 10 Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun. Ayat 8-10.

Paulus menegur orang Galatia yang bertobat karena telah kembali "lagi" menjadi penyembahan berhala, yang berarti mereka juga kembali memelihara "hari, bulan, waktu dan tahun penyembahan berhala”. Dengan demikian, iblis berusaha menarik mereka kembali ke cara lama/hidup lama mereka. Di sisi lain, kitab Galatia menunjukkan bahwa orang-orang yang baru bertobat tersebut juga diserang oleh orang-orang percaya Yahudi yang pikirannya tersesatkan, tidak paham firman, yang menginginkan setiap orang bukan Yahudi untuk "disunat" dan "mematuhi hukum Musa" (Kisah Para Rasul 15:1,5; Gal. 2: 3, 4), yang mencakup memelihara hari raya tahunan dari hukum upacara/ seremonial (seperti Paskah, Perayaan Pondok Daun, dll.) Yang Paulus jelaskan dalam Kolose 2:14-17 dipakukan di kayu salib. Apapun pencobaan ekstrem yang dihadapi orang Galatia, "bagaimana kamu bebalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin yang mengarah pada "perbudakan" (Galatia 4:9 KJV) bukanlah mengenai Sepuluh Perintah, karena Perjanjian Baru mengidentifikasi hukum Sepuluh Perintah sebagai "hukum kerajaan ... hukum kebebasan."Yakobus 2:8-12 KJV. Mengaplikasikan Galatia 4:10 kepada hari Sabat dari perintah keempat adalah memelintir Kitab Suci. Lihat 2 Petrus 3:16. Sepuluh Hukum adalah hukum Kerajaan menuntun kepada Kemerdekaan bukan hukum roh-roh dunia yang mengarah kepada perbudakan.

"Tetapi Yesus Kristus bangkit pada hari Minggu!": Puji Tuhan! Tapi mari jangan gunakan kebangkitan Yesus Kristus sebagai alasan untuk melanggar salah satu dari Sepuluh Perintah Allah. Yesus sendiri tidak pernah menyebutkan apapun tentang memelihara hari Minggu. Perjanjian Baru menyatakan bahwa Tuhan menetapkan Baptisan Alkitabiah sebagai upacara khusus-Nya untuk memperingati kematian, penguburan, dan kebangkitan Anak-Nya (lihat Roma 6:4), bukan pemeliharaan terhadap hari Minggu. Memelihara hari Minggu sebagai suatu hari suci untuk menghormati kebangkitan Yesus Kristus tidak memiliki dukungan Alkitab.

Tentu setiap hari kita yang mengasihi Dia akan berdoa dan memuji Tuhan, senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, minggu. Tapi Cuma Satu Hari yang dikhususkan, diberkati dan dikuduskan, disebut Hari Kudus Tuhan dimana kita beristirahat dari pekerjaan kita dan fokus ke Sang Pencipta, yaitu Hari Sabat, Hari Ketujuh.

"Tetapi kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia." (Roma 6:14) !: SANGAT SETUJU dan ini memang Benar. Tapi coba lanjut baca ayat berikutnya, “Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? TUHAN MELARANG!" lihat Roma 6:15 KJV. "Dosa adalah pelanggaran hukum Allah." 1 Yohanes 3:4. Untuk menafsirkan "di bawah kasih karunia" sebagai lisensi atau pembenaran untuk terus melanggar salah satu dari Sepuluh Perintah Allah adalah pemelintiran terhadap kata-kata Paulus. Lihat juga Roma 3:31 dan 6: 1,2. Yesus Kristus datang untuk menyelamatkan umat-Nya “dari” dosa-dosa mereka (Matius 1:21), bukan diselamatkan di dalam dosa mereka. Pertanyaan untuk direnungkan Roma 6:1,2: Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?

Satu kali ada pengendara mobil yang kena tilang menerobos lampu merah dan polisi menghentikan mobil tersebut yang melanggar undang-undang lalu lintas, sementara mobil yang lain dibiarkan karena tidak ada pelanggaran. Pengendara yang menerobos lampu merah sekarang ada “dibawah hukum”dibawah undang-undang lalu lintas , Polisi mendekati pengendara tersebut dan menjelaskan kesalahannya, memeriksa surat-suratnya. Banyak kesaksian pernah didengar si sopir dimana Polisi hanya memperingati orang yang melanggar dan membiarkan si sopir pergi kalo si sopir minta maaf baik-baik. Oleh sebab itu si sopir itu mengaku salah dan memohon untuk dimaafkan dan tidak ditilang, dan benar si Polisi hanya memperingati dan membiarkan si sopir pergi, sekarang si sopir ada “dibawah Kasih Karunia”sang penegak hukum. Secara hukum seharusnya Polisi menilang, tapi Polisi juga memiliki kewenangan untuk membiarkan si sopir pergi dengan peringatan. Si sopir kegirangan dan bersyukur berterima kasih atas kebaikan si Polisi. Lantas setelah itu Apa ? Apa si sopir akan injak gas dan kembali melanggar rambu-rambu lalu lintas setiap ada kesempatan karena dia dibebaskan dari Hukuman. Tentu sebagai warga yang baik si sopir akan berhati-hati dalam berkendara dan tidak melanggar hukum.

Demikian juga dalam Yesus ada pengampunan dosa oleh kasih karunia-Nya : Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Roma 6:23. Lagi janji Firman : Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. 1 Yoh 1:9

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Efesus 2:8,9.

Paulus berkata Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya.Roma 3:31.

Ajaran dari mulut Sang Juruselamat sendiri mengatakan kepada pendosa yang diampuni dosanya: “Jangan berbuat dosa lagi.” Yoh 5:14, Yoh 8:11

Sepuluh HukumTuhan tidak pernah dimaksudkan dan di design untuk menghapus dosa manusia, hanya darah Yesus yang sanggup. Tetapi bukan berarti hukum Tuhan tidak penting, justru setelah kita diampuni dari dosa-dosa kita, dengan pertolongan Tuhan hidup dalam Jalan-Jalan Tuhan mengikuti rambu-rambunya untuk kebaikan kita. Yesus sendiri sangat jelas mengatakan :“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Rom 14:15-17. Bukanlah Legalistik jika karena kasih kita kepada Dia kita hidup dalam perintah-Nya. Apakah tidak mencuri dan tidak membunuh membuat kita jadi Legalis ? Demikian juga kalo kita memelihara Sabat Tuhan didorong oleh karena Kasih. Jelas jadinya bahwa orang percaya memelihara perintah Tuhan bukan untuk memperoleh keselamatan tetapi karena telah memperoleh keselamatan kita mengasihi Tuhan dengan jalan taat kepada perintah-Nya. Kasih dan Ketaatan adalah tidak terpisahkan. Roh Kudus akan diberikan sesuai janji-Nya apabilah kita mau hidup mengasihi Dia dengan jalan melakukan perintah-Nya.

Sangat jelas ketika Tuhan memberikan Sepuluh Hukum di gunung Sinai, perhatikan urutan nya: Dimulai dari : “Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: “Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Tuhan mengidentifikasikan dirinya sebagai Penyelamat yang membebaskan orang Israel dari Perbudakan Mesir (lambang dari dosa), kemudian baru dia memberikan sepuluh hukum . Keluaran 20:1-17

Rasul Petrus mengajarkan setelah berpindah dari kegelapan kepada Terang yang ajaib, kita harus hidup berubah, tidak menggunakan kemerdekaan kita untuk melakukan kejahatan/dosa. 1 Petrus 2:9,16.

Pelajari ciri-ciri umat Tuhan, umat sisa di akhir zaman sebelum kedatangan Yesus yang kedua : Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus. Wahyu 14:12

Untuk belajar Alkitab mengenai Sepuluh Perintah Tuhan silahkan baca Artikel Sepuluh Perintah Tuhan. Terus membaca artikel-arikel kami dengan Alkitab di tangan Anda. Dan ujilah apakah pengajaran-pengajaran kami sesuai dengan firman Tuhan.

Artikel diatas diambil dan diterjemahkan dari White Horse Media atas ijin Steve Wohlberg, Direktur dan Pembicara White Horse Media.

Untuk Anda yang mau belajar lebih dalam tentang Kebenaran Firman Tuhan, silakan email ke 3AM@threeangelsmedia.com.

<-- artikel sebelumnya | artikel selanjutnya -->

60 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Dapatkan pemberitahuan langsung ke email Anda

setiap kami menerbitkan artikel terbaru

  • Facebook Social Icon
  • Instagram
  • YouTube
  • 2b926d_8338b6857b6e46a3a5d467e1ce88e42a_mv2

©2017 THREE ANGELS MEDIA

JAKARTA, INDONESIA