• Three Angels Media

Bagian 4 : Membandingkan Sepuluh Perintah dengan Karakter Allah


Melalui Sepuluh PerintahNya, Allah mengungkapkan sifat dan karakter-Nya sendiri. Karakteristik dan atribut Tuhan begitu banyak sehingga untuk mencantumkan dan menjelaskan secara menyeluruh akan membutuhkan lebih banyak ruang daripada yang kita miliki di sini. Tabel di bawah ini memberikan perbandingan yang sangat baik dari tulisan suci tentang bagaimana Sepuluh Perintah dan Karakter Allah yang sempurna memiliki atribut yang sama. Ini karena Sepuluh Perintah adalah Kasih, seperti Allah adalah kasih dan keduanya memiliki atribut yang sama. Oleh karena itu Sepuluh Perintah Allah memberikan aturan perilaku moral dan sosial yang sempurna, yang bila diikuti akan membimbing seseorang untuk memiliki lebih banyak lagi karakter Kristus. Ini adalah sesuatu yang harus diinginkan dan dicapai oleh semua orang orang percaya.

Sepuluh Perintah yang diberikan di Gunung Sinai adalah cerminan dari sifat Tuhan karena mengandung juga prinsip moral yang universal dan tidak berubah dan menggambarkan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama manusia kita. Roh Kudus menginsafkan kita akan dosa dan menunjukkan kita kepada hukum-hukum Allah yang sempurna sehingga membuat kita menyadari bahwa kita tidak berdaya dan tanpa pertolongan, tapi tidak berhenti disitu, Dia menyadarkan orang berdosa bahwa mereka butuh Penyelamat. Hukum Allah adalah alat yang dengannya Roh memanggil kita untuk bertobat. Paulus berkata, "Apa yang harus kita katakan? Apakah hukum itu dosa? Tuhan melarang. Tidak, saya tidak tahu dosa, tapi oleh hukum Taurat: karena saya tidak mengerti apa itu nafsu, kecuali hukum Taurat memberitahu ”jangan mengingini”. Roma 7: 7. Dosa ialah pelanggaran hukum. 1 Yohanes 3: 4. Alasan Tuhan tidak bisa mentolerir dosa adalah karena itu mengotori karakterNya sendiri.

Mana yang lebih dahulu ada menurut anda, Sepuluh Hukum atau dosa ? Alkitab menjelaskan Hukum Tuhan sudah ada bahkan menjadi pondasi pemerintahan Kerajaan Allah di sorga, seperti yang sebenarnya dicontoh oleh semua pemerintahan di bumi dimana mereka juga memiliki undang-undang dan hukum. Lucifer berdosa karena “ia ingin menyamai Yang Maha Tinggi” Yesaya 14:12-14 KJV, sehingga dia berdosa memberontak melawan Pemerintahan Tuhan, dia jatuh kedalam dosa, Lucifer “mengingini” apa yang menjadi milik Tuhan, dia mau mencuri, dia ingin disembah yang walaupun dia yang adalah ciptaan, dia ingin disembah oleh para malaikat (ini adalah bentuk penyembahan berhala dan melanggar hukum Allah). Apakah mungkin Gereja dewasa ini dan Para Pemimpinnya bisa saja salah dalam topik ini? Masa? Mana mungkin para pemimpin gereja yang belajar alkitab dan dipenuhi Roh kudus bisa tertipu? Tanya sama Adam dan Hawa. Di Taman Eden, dimana Tuhan tempatkan manusia yang sempurna, diciptakan menurut gambar-Nya, berbicara muka dengan muka, tanpa cacat dan tanpa dosa dan Tuhan memberikan hukumNya, Tuhan memberikan perintah kepada manusia untuk tidak memakan buah pengetahuan yang baik dan benar, Institusi Sabat (baca Zona Sabat) dan Pernikahan kudus pertama diberikan kepada manusia sebelum ada dosa. Si ular media (medium) yang dipakai jadi alat setan berhasil memperdaya manusia, memelintir firman, dengan penipuan memakai sepotong firman, membuat manusia lebih percaya kebohongan dan ajaran setan dibandingkan Firman Tuhan, manusia jatuh dalam dosa.

Kalau saja manusia tidak jatuh dalam dosa, manusia pasti bahagia, mengasihi Tuhan dan sesama, sampai saat ini memelihara Sepuluh Hukum, bukan 6, bukan 9, bukan sebagian tapi Sepuluh-sepuluhnya. Kain membunuh saudaranya Habel dan dia tau itu adalah salah karena melanggar perintah Tuhan, hal itu jauh sebelum ada bangsa Israel, sebelum Tuhan memberikan secara tertulis dan gamblang di Gunung Sinai, Bisakah Anda melihat bahaya yang mengancam jiwa yang membuat umat manusia jatuh dalam kesedihan, penderitaan, dan kematian, ini terjadi karena sebuah pelanggaran makan buah yang kelihatan sepele tapi yang sebenarnya sangat serius. Ini lebih dari sekedar makan buah, ini adalah pelanggaran terhadap hukum Tuhan, manusia lebih percaya kebohongan setan dibandingkan firmanNya, dan hal itu berbuahkan dosa dan membuat semua umat manusia kehilangan kemuliaan Allah. Syukur kepada Yesus atas Rencana KeselamatanNya, Dia mati bagi dosa kita supaya kita yang percaya akan dikembalikan ke keadaan semula, seperti hubungan antara Tuhan dengan manusia pertama ,menikmati hubungan yang indah, muka dengan muka, selama-lamanya.

Kesalahan umum yang terjadi adalah bahwa Sepuluh Perintah itu baru ada sewaktu Tuhan membebaskan Israel dari perbudakan mesir, dan memberikan hukumNya kepada Musa di atas gunung Sinai, sehingga memberikan persepsi yang keliru bahwa Sepuluh hukum hanya untuk orang Israel jasmani. Tetapi yang sebenarnya adalah sepuluh hukum sudah ada sebelum ada bangsa Israel, sebelum ada air bah, bahkan sebelum manusia jatuh dalam dosa. Pernikahan Kudus pertama kali antara Adam dan Hawa (bukan orang Israel) sudah ada sebelum manusia jatuh dalam dosa di Kel 2:21-25 dan prinsip firman Tuhan di Taman Eden (sebelum ada dosa) juga dipakai setelah ribuan tahun sesudah manusia berdosa oleh para penulis Perjanjian baru sebagai dasar pernikahan. Bandingkan Kel 2:24 dengan Mat 19:5, Mar 10:7, Ef 5:31. Apakah ini berarti institusi pernikahan batal karena sekarang kita ada dibawah perjanjian baru, karena kita ada dibawah kasih karunia dan bukan dibawah hukum taurat ? Tentu saja tidak, pernikahan kudus tetap lah sebuah institusi kudus yang diberikan Allah sebagai dasar hidup suami dan istri sampai sekarang, yang salah bukan institusi pernikahan, yang salah adalah manusia yang melanggar kekudusan pernikahan. Pernikahan bukan Institusi hanya untuk orang Israel demikian juga Sepuluh hukum bukan hanya untuk orang Israel. Inilah karakter Allah yang sebenarnya: Kasih dan Kudus. Demikian juga semua hukum dari sepuluh perintah Tuhan sudah ada sebelumnya, bahkan Institusi Sabat (baca Zona Sabat). Dan tetap diajarkan tanpa henti oleh Yesus dan para penulis kitab Perjanjian baru dari Matius sampai Wahyu.

Karakter Tuhan adalah Pribadi Nya. Dalam perbandingan dibawah ini, anda akan mempelajari bahwa apabila kita meniadakan Sepuluh hukum, tanpa sadar kita akan meniadakan Karakter Tuhan, yang pada akhirnya bahkan meniadakan Tuhan. Benarkah ini yang diajarkan Alkitab? Salah satu senjata iblis yang terkuat dan paling efektif adalah penipuan, ia adalah bapa segala dusta. Iblis adalah sumber dari segala kebingungan gereja dewasa ini, sehingga gereja tidak mengerti perbedaan ajaran sejati alkitab dengan opini manusia. Iblis bekerja sekuat tenaga “mengaburkan” sepuluh hukum, memelintir firman Tuhan, memberikan sepotong kebenaran dan sepotong lagi kebohongan, membuat manusia gagal memahami karakter Tuhan, mengeluarkan Tuhan dari pandangan kita. Syukur kepada Tuhan, Dia berjanji memberikan Roh Kudus, yaitu Roh Kebenaran yang akan menuntun kita kepada seluruh kebenaran.

Karakter Tuhan tercermin dari Sepuluh perintah yaitu : Kudus, Sempurna, Kasih, Benar, Memerdekakan, Harapan, Sumber Meditasi, Memberkati, Membuat Bahagia, Memberi pengertian dan pengetahuan, Bijak, Tidak berubah….Mengapa kita mau menyingkirkan kan semua yang baik diatas ?? Bukankan kita ingin berada pada umat Tuhan yang memiliki karakter Tuhan, menjadi anak-anak yang memiliki karakter Bapa-Nya ? menjadi murid yang seperti Gurunya? Masalahnya bukan Tuhan, masalah nya bukan Sepuluh Perintah Tuhan yang merupakan Karakter Tuhan, masalahnya adalah hati manusia, pikiran manusia, penuh dengan penipuan dan keinginan berdosa.

Sepuluh Perintah Tuhan memberikan definisi dosa seperti “cermin” yang menunjukkan kotoran di muka kita, tanpa cermin kita tidak tahu ada kotoran disana, demikianlah hukum Tuhan menunjukkan dimana letak kesalahan/dosa kita dan mengarahkan kita kepada kebutuhan akan sesuatu yang bisa membersihkan kotoran itu, yaitu darah Yesus. Melalui Hukum Tuhan, Roh kudus akan menyadarkan kita akan kebutuhan Pembersih dosa, kepada Sang Penyelamat, yaitu Yesus yang menghapus dosa dunia. Kita bukan diselamatkan karena melakukan Sepuluh Perintah Tuhan, hanya darah Yesus yang bisa menghapus dosa, kita diselamatkan hanya karena Kasih Karunia oleh iman. Tapi kita setiap hari butuh “cermin”, kita butuh bercermin kepada Perintah Allah yang adalah Karakter Allah sendiri. Yakobus menasehati kita untuk bukan hanya bercermin menjadi pendengar firman Tuhan saja tetapi menjadi pelaku firman, meneliti hukum yang sempurna, hukum yang memerdekakan, bertekun, bukan hanya mendengar untuk melupakan, tetapi sungguh-sungguh melakukan, orang itu akan bahagia. Baca Yakobus 1:23-25 KJV.

Banyak orang berpikir Kebebasan sejati adalah dengan kita bebas melakukan apa saja tanpa ada tanggungjawab yang benar, bahwa larangan-larangan itu membuat orang tidak bahagia. Kalo memang demikian kehidupan pernikahan, berumah tangga, memiliki anak adalah kehidupan paling menyedihkan. karena kehidupan berumah tangga memiliki tanggung jawab yang besar dimana didalamnya ada komitmen, ada DO and DONT's, ada hak, kewajiban, ada banyak batasan dan larangan. apa benar demikian? coba pikirkan sejenak atas dasar apa anda berjanji setia sehidup semati dengan pasangan anda? Atas dasar cinta bukan?sehingga anda rela menanggung bersama semua yang baik dan juga yang buruk, sehingga anda tidak lagi melirik pria/wanita lain, dilarang berselingkuh, dilarang memukul, dilarang berbohong saya yakin ada di setiap pasangan suami istri yang ingin bahagia. atau adanya batasan-batasan dan larangan orangtua kepada anak, apakah itu membuat orangtua dan anak jadi tidak bahagia? misalnya dibatasi adanya jam bermain, jam tidur, jangan mencuri, jangan main api atau listrik. bukannya batasan dan larangan itu membuat seisi rumah tangga jadi aman? bukannya kita justru akan lebih mengasihi pasangan dan anak kita mengetahui mereka bisa dipercaya tidak melampaui batas dan tidak melanggar perjanjian.

Coba bayangkan anda berada di komunitas yang tidak memiliki hukum, tidak ada sanksi terhadap pencuri, pembunuh, pemerkosa. hukum negara yang kita pegang untuk kita patuhi membuat komunitas kita lebih aman dan hukum yang sama membuat para penjahat dipenjara. bukankah lebih aman berkendara dengan adanya rambu-rambu lintas, pembatas jalan atau pagar pengaman dijalan berbahaya. apa kah semua yang disebutkan tadi membuat pasangan, orangtua, anak, warga negara tidak bahagia, atau sebaliknya mereka lebih aman dan bahagia. Demikianlah hendaknya Sepuluh Perintah Allah adalah janji kudus, tanda kasih, rambu-rambu, pengaman yang kalau kita patuhi akan menghantar kita Kepada Kebahagiaan Sejati yang menjagai kita dalam perjalanan iman kita.

Para Pembaca maukah Anda mengalami Kebahagiaan sejati ? percayalah kepada Yesus Sang Pencipta, Sang Penyelamat yang mati bagi dosa-dosa manusia di kayu salib, menerima pengampunan-Nya, setelah itu belajar firman dan melakukannya dengan sungguh-sungguh oleh pertolongan Roh kudus. Amin.

Artikel diatas diambil dan diterjemahkan dari White Horse Media atas ijin Steve Wohlberg, Direktur dan Pembicara White Horse Media.

Untuk Anda yang mau belajar lebih dalam tentang Kebenaran Firman Tuhan, silakan email ke 3AM@threeangelsmedia.com.

<-- artikel sebelumnya | artikel selanjutnya -->

140 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Dapatkan pemberitahuan langsung ke email Anda

setiap kami menerbitkan artikel terbaru

  • Facebook Social Icon
  • Instagram
  • YouTube
  • 2b926d_8338b6857b6e46a3a5d467e1ce88e42a_mv2

©2017 THREE ANGELS MEDIA

JAKARTA, INDONESIA