• Three Angels Media

Bab 2: Dimana sebenarnya letak Tanah Perjanjian itu?(2)

Kebenaran Tentang Israel.

Bab 2 : Dimana sebenarnya letak Tanah perjanjian itu ?

Dalam Bab 1, Ditunjukkan dari Kitab Suci bahwa janji awal Allah kepada Abraham untuk memberikan kepadanya "tanah Kanaan" sebagai "kepemilikan abadi" (lihat Kejadian 17: 8) yang diterapkan terutama kepada tanah yang sama yang dibersihkan dari dosa, juga disebut "negeri yang lebih baik, yang surgawi" (Ibrani 11:16 KJV) dimana setiap anak-anak Allah suatu saat akan memperolehnya sebagai rumah kekal mereka melalui Yesus Kristus. Petrus menulis, "Tetapi kita, sesuai dengan janji-Nya, mencari suatu langit yang baru dan bumi yang baru, di mana kebenaran tinggal" (2 Petrus 3:13 KJV). Kita sebelumnya telah mendefinisikan Tanah Utama sebagai tanah yang sama yang dibersihkan dari dosa (bumi baru) dan Tanah Sekunder (Tanah kedua) sebagai tanah yang dikuasai dosa fisik dimana Yerusalem modern berada saat ini. Mari kita lihat lebih dekat tentang Tanah Kedua (tanah fisik). Apakah Tuhan memberikan Tanah fisik tanpa syarat kepada orang Yahudi terpisah dari apakah mereka memiliki iman dan taat kepada-Nya? Banyak yang berpikir begitu. Keyakinan mereka adalah bahwa karena Tuhan memberikan tanah itu pada keturunan Abraham, ini berarti bahwa semua orang Yahudi sepanjang sejarah - termasuk orang Israel modern saat ini - memiliki hak tanpa syarat untuk tanah itu. Isu ini menjadi sangat tidak stabil sehubungan dengan “Road Map to Peace” (Peta jalan menuju perdamaian). Presiden Bush, politisi Amerika, dan banyak pemimpin Israel mengatakan bahwa tanah tersebut sekarang harus dibagi antara orang Yahudi dan Palestina. Proposal ini dirancang untuk mengurangi konflik berdarah dan mendorong perdamaian. Tetapi banyak orang yang disebut Zionis Kristen memprotes rencana ini, menyebutnya sebagai "Peta Jalan ke neraka," berpendapat bahwa hanya orang Yahudi yang memiliki hak atas tanah, berdasarkan Perjanjian Lama. Apa yang sebenarnya dikatakan oleh Perjanjian Lama? Jawabannya mungkin mengejutkan Anda. Dalam Keluaran 19: 5, Tuhan berfirman kepada Israel, " jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku (harta istimewa/khusus) sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi."

Demikianlah orang Israel menjadi Harta istimewa/khusus/pilihan ... di atas semua bangsa dengan SYARAT yaitu bergantung pada ketaatan mereka terhadap Firman Tuhan dan Perjanjian Tuhan.

Ulangan 28 adalah pasal yang terkenal tentang berkat dan kutuk. Jika Israel mematuhi Tuhan, dia akan diberkati. Jika dia tidak taat, dia akan dikutuk. Berkat dan kutukan semacam itu juga berlaku untuk "di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu." (ayat 11). Jika Israel mengikuti Tuhan, dia akan diberkati di tanah itu, tapi jika dia tidak taat, Tuhan berkata, "kamu akan dicabut dari negeri itu ... sampai kamu hancur" (ayat 61,63). Dengan demikian hak Israel atas tanah bergantung pada hubungannya dengan Tuhan. Sejarah menunjukkan bahwa lebih dari dua juta orang meninggalkan Mesir bersama Musa. Saat Israel melakukan perjalanan melalui padang gurun, Tuhan mengulangi janji-Nya untuk memberi mereka "tanah yang akan kamu miliki" (Ulangan 7: 1 KJV). "Janji tanah" Allah pasti berlaku bagi dua juta orang Israel itu. Tapi apa yang terjadi? Hampir semua dari mereka meninggal di padang gurun karena dosa-dosa mereka. Paulus kemudian menulis, "mereka tidak dapat masuk karena ketidakpercayaan mereka" (Ibrani 3:19). Ini membuktikan bahwa meskipun Tuhan telah berjanji memberikan tanah itu, IMAN adalah syarat menerima janji itu. IMAN = TANAH. Tidak ada iman = tidak berhak atas tanah, meskipun Tuhan telah menjanjikannya kepada mereka. Karena Israel berdosa, mereka harus menanggung kesalahan mereka. Tuhan berkata, "kamu akan mengetahui pelanggaran tehadap janji-Ku" (Bilangan 14:34 KJV). Generasi berikutnya - generasi di bawah kepemimpinan Yosua – mereka memiliki iman dan memasuki tanah itu. Namun seiring berjalannya waktu, sebagian besar keluar dari iman dan ketaatan kepada Hukum Allah. Sekali lagi Tuhan memperingatkan, "Aku akan mengusir kamu dari negeri ini" (Yeremia 16: 12,13) ​​kecuali jika ada sesuatu yang berubah. Akhirnya, tentara Babel datang dan "Yehuda dibawa keluar sebagai tahanan dari negerinya sendiri" (Yeremia 52:27). Sebelum penawanan/pembuangan ini, Tuhan secara tegas mengulangi sifat kondisional dari janji-janji-Nya kepada Israel. Perhatikan baik-baik,

"Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa (Dia sedang berbicara kepada Israel) dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan membangun dan menanam mereka. Tetapi apabila mereka melakukan apa yang jahat di depan mata-Ku dan tidak mendengarkan suara-Ku, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak mendatangkan keberuntungan yang Kujanjikan itu kepada mereka. Sebab itu, katakanlah kepada orang Yehuda dan kepada penduduk Yerusalem: Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku ini sedang menyiapkan malapetaka terhadap kamu dan merancangkan rencana terhadap kamu. Baiklah kamu masing-masing bertobat dari tingkah langkahmu yang jahat, dan perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu!” Yeremia 18: 9-11. Di sini Tuhan berkata bahwa meskipun Dia berjanji kepada Israel, jika Israel melakukan kejahatan dan menolak untuk mematuhi suara-Nya, Dia berkata, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak mendatangkan keberuntungan yang Kujanjikan itu kepada mereka. Ini adalah bukti nyata bahwa janji-janji Allah kepada Israel bersyarat. Ini juga berlaku untuk tanah. Karena Israel tidak taat, dia kehilangan tanah dan dibuang ke Babel. Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. Ibrani 13: 8. Bagaimana ini berlaku untuk bangsa Israel hari ini? Apakah bangsa Yahudi modern sekarang memiliki hak tanpa syarat atas tanah itu karena Tuhan awalnya memberikannya kepada nenek moyang mereka? Jelas dalam Perjanjian Lama, ketika Israel tidak menaati Tuhan, dia kehilangan haknya atas tanah itu. Jadi, mari tanyakan pertanyaan ini: Apakah Israel modern taat atau tidak taat? Dalam cahaya terang Perjanjian Baru, ketaatan semacam itu harus diadili oleh penerimaan atau penolakan Israel terhadap Anak Allah, yaitu Yesus Kristus. Menurut Perjanjian Lama dan Baru, bangsa Yahudi modern tidak memiliki hak ilahi dan tidak bersyarat atas tanah duniawi Kanaan (Tanah kedua). Dalam terang ini, penulis berharap bahwa Peta Perdamaian akan mencapai beberapa keberhasilan terbatas dalam mempromosikan keharmonisan di daerah yang bergejolak itu. Lebih penting lagi, waktunya semakin dekat ketika " hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi (termasuk tanah kanaan fisik dimana Israel berada saat ini) dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Tetapi sesuai dengan janji-Nya (janji yang orisinil kepada Abraham), kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru (Tanah yang terutama), di mana terdapat kebenaran. 2Petrus 3: 10,13.

Satu-satunya harapan - apakah orang Yahudi, Palestina, Rusia, Eropa, Cina atau Amerika – yaitu mereka yang memiliki harapan untuk hidup selamanya di Tanah Terutama adalah mereka yang bertobat dari dosa-dosa mereka, percaya kepada Yesus Kristus, dan mengikuti kebenaran Alkitab.

"Dan jika Anda adalah milik Kristus, maka Anda adalah keturunan Abraham, dan ahli waris sesuai dengan janji." Galatia 3:29

Bersambung..

Artikel diatas diambil dan diterjemahkan dari White Horse Media atas ijin Steve Wohlberg, Direktur dan Pembicara White Horse Media.

Untuk Anda yang mau belajar lebih dalam tentang Kebenaran Firman Tuhan, silakan email ke 3AM@threeangelsmedia.com.

<-- artikel sebelumnya | artikel selanjutnya -->