• Three Angels Media

Pelajaran 6 - Dipahat Di Atas Batu


Agar keamanan dan perdamaian terjaga akankah lebih baik jika kita semua mematuhi segala hukum kenegaraan yang ada, apalagi di di zaman di mana kejahatan dan kriminalitas menguasai kota-kota kita? Berabad-abad yang lalu Tuhan menuliskan hukum-hukumNya diatas batu dan saat ini Anda masih diharapkan-Nya untuk menuruti hukum- hukum tersebut. Melanggar bagian mana pun dari Hukum Tuhan akan membawa akibat yang negatif. Tetapi memelihara hukum Tuhan akan menjamin keamanan dan kedamaian kita. Karena akibat pelanggaran hukum begitu besar, mari kita ambil waktu beberapa menit untuk memikirkan dengan seksama penempatan sepuluh hukum Tuhan didalam kehidupan kita.

1. Apakah Tuhan Sendiri yang menuliskan Sepuluh Hukum itu?

“Dan TUHAN memberikan kepada Musa… kedua loh hukum Tuhan, loh batu, yang ditulisi oleh jari Tuhan.” “Kedua loh itu ialah pekerjaan Tuhan dan tulisan itu ialah tulisan Tuhan, ditukik pada loh-loh itu.” (Keluaran 31:18; 32:16).

Jawab: Ya, Tuhan Yang Maha Esa menuliskan Sepuluh Hukum di atas loh batu dengan jari-Nya sendiri.

2. Apa arti dosa menurut Tuhan?

“Dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” (1 Yohanes 3:4).

Jawab: Dosa ialah pelanggaran Sepuluh Hukum Tuhan. Dan karena Hukum Tuhan itu sempurna (Mazmur 19:8); maka hal itu mencakup semua jenis dosa. Hukum itu mencakup semua “kewajiban setiap orang” (Pengkhotbah 12:13). Tidak ada yang ketinggalan.

3. Kenapa Tuhan memberi kita Sepuluh Hukum?

“Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.” (Amsal 29:18).

“Biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.” (Amsal 3:1,2).

Jawab:

A. Sebagai penuntun menuju hidup yang bahagia dan berkelimpahan.

Tuhan menciptakan kita untuk menikmati sukacita, kedamaian, umur panjang, kelimpahan, prestasi, dan semua berkat-berkat lainnya yang diinginkan hati kita. Hukum Tuhan adalah peta yang menunjukkan jalan yang benar untuk diikuti supaya mendapatkan kebahagiaan yang sejati dan tak tertandingi.

“… justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.”(Roma 3:20). “Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: “Jangan mengingini!” (Roma 7:7).

B. Untuk menunjukkan perbedaan antara yang benar dan yang salah.

Sepuluh Hukum Tuhan bagaikan cermin (Yakobus 1:23-25). Menunjukkan kesalahan-kesalahan dalam hidup kita seperti cermin menunjukkan noda di wajah kita. Satu-satunya cara bagi seseorang agar tahu apakah dia berdosa adalah dia harus membandingkan hidupnya dengan menggunakan 10 Hukum Tuhan sebagai cermin. Harapan bagi generasi yang merosot dan kacau ini terdapat pada 10 Hukum Tuhan. Didalam situlah terdapat batasan-batasan.

“TUHAN, Allah kita, memerintahkan kepada kita untuk melakukan segala ketetapan itu [Sepuluh Hukum] … supaya senantiasa baik keadaan kita…” (Ulangan 6:24).

“Sokonglah aku, supaya aku selamat; aku hendak bersukacita dalam ketetapan-ketetapan-Mu senantiasa. Engkau menolak semua orang yang sesat dari ketetapan-ketetapan-Mu…” (Mazmur 119:117, 118). C. Untuk melindungi dari bahaya dan tragedi.

Sepuluh Hukum Tuhan bagaikan kandang kokoh di kebun binatang yang melindungi kita dari hewan-hewan buas. Sepuluh Hukum Tuhan melindungi kita dari ketidaksetiaan, kebohongan, pembunuhan, penyembahan berhala, pencurian, hal-hal jahat yang menghancurkan hidup, kedamaian, dan sukacita. Semua hukum yang baik selalu melindungi warganya dari kejahatan, dan Sepuluh Hukum Tuhan juga melindungi warga kerajaan-Nya dari kejahatan.

“Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya” (1 Yoh 2:3)

D. Agar lebih mengenal Tuhan.

Catatan Penting: Prinsip-prinsip kekal Kesepuluh Hukum Tuhan sebenarnya sudah dituliskan di dalam hati setiap manusia oleh Tuhan yang menciptakan kita. Tulisan itu mungkin saja sudah tidak jelas dan sudah tercemar, tetapi selalu ada di lubuk hati kita yang paling dalam. Kita diciptakan untuk hidup dalam keselarasan dengan Sepuluh Hukum itu. Saat kita memilih untuk mengabaikannya, hasil yang didapat adalah stres, kegelisahan, dan tragedi sama seperti saat kita mengabaikan peraturan-peraturan lalu-lintas, itu hanya akan menuntun kita kepada masalah-masalah yang lebih serius seperti kematian.

4. Kenapa Hukum Tuhan sangat penting bagi saya secara pribadi ?

“Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang.” (Yakobus 2:12).

Jawab: Karena Sepuluh Hukum adalah standar yang digunakan Tuhan untuk memeriksa manusia dalam penghakiman Tuhan.

5. Bisakah Hukum Tuhan diubah atau disingkirkan?

“Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal.” (Lukas 16:17).

“Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah.” (Mazmur 89:35).

“Segala titah-Nya teguh, kokoh untuk seterusnya dan selamanya.” (Mazmur 111:7,8).

Jawab: Tidak. Alkitab sangat jelas bahwa hukum Tuhan tidak dapat dirubah. Sepuluh Hukum adalah pernyataan prinsip-prinsip sifat Tuhan yang suci dan yang menjadi dasar kerajaanNya. Hukum itu akan selalu ada selama Tuhan ada.

Tabel dibawah menunjukan bahwa Tuhan dan hukumnya mempunyai karakteristik yang sama, yang menunjukan bahwa Sepuluh Hukum adalah karakter Allah dalam bentuk tertulis. Ditulis agar kita bisa lebih mengerti Tuhan. Tidaklah mungkin untuk merubah hukum Tuhan, itu sama saja seperti kalau kita ingin membawa Tuhan keluar dari surga dan merubahNya. Yesus Kristus datang untuk menunjukkan pada kita seperti apa Hukum itu yang merupakan standar hidup suci dalam wujud manusia. Sifat-sifat Tuhan tidak mungkin berubah, begitu juga dengan Sepuluh Hukum Tuhan.

6. Apakah Tuhan Yesus Kristus menyingkirkan Hukum Tuhan sewaktu Dia hidup di bumi ini sebagai manusia biasa?

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat… Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya… selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Matius 5:17, 18)

Jawab: Tidak. Yesus dengan jelas mengatakan bahwa Dia tidak datang untuk meniadakan hukum, tetapi untuk menggenapi (mematuhi) hukum. Bukannya menghapus hukum, Yesus bahkan lebih memperjelasnya (Yesaya 42:21) sebagai pedoman yang sempurna untuk kehidupan yang suci. Contohnya, Yesus menunjukkan bahwa jangan membunuh juga berarti jangan marah kepada orang lain tanpa alasan (Matius 5:21, 22) dan membenci (1 Yohanes 3:15), dan bahwa nafsu seksual di dalam hati adalah tindakan perzinahan (Matius 5:27, 28). Dia mengatakan, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku,” (Yohanes 14:15)

7. Apakah orang yang terus-menerus melanggar hukum Tuhan secara sadar akan diselamatkan?

“Upah dosa ialah maut” (Roma 6:23)

“TUHAN datang… dengan murka yang menyala-nyala, untuk membuat bumi menjadi sunyi sepi dan untuk memusnahkan dari padanya orang-orang yang berdosa.” (Yesaya 13:9).

“…Barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” (Yakobus 2:10).

Jawab: Sepuluh Hukum menuntun kita menuju hidup yang suci. Jika kita melanggar bahkan satu saja dari Sepuluh Hukum, maka kita mengabaikan salah satu bagian yang sangat penting dari rencana Allah. Jika satu dari mata rantai tersebut putus, maka seluruh tujuan Hukum itu menjadi tidak terlaksana. Alkitab menuliskan saat kita secara sadar melanggar Hukum Tuhan, kita berdosa (Yakobus 4:17), sebab kita sudah menolak kehendak-Nya bagi kita. Hanya orang yang melakukan kehendak-Nya yang dapat masuk kedalam kerajaanNya. Tetapi Tuhan akan memaafkan setiap orang yang benar-benar bertobat dan menerima kuasa Kristus untuk melakukan perubahan dalam hidupnya.

8. Bisakah seseorang diselamatkan dengan menuruti Sepuluh Hukum Tuhan?

“Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Tuhan oleh karena melakukan hukum Taurat,..”(Roma 3:20).

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Tuhan, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus2: 8,9).

Jawab: Tidak! Jawabannya sangat jelas. Tidak ada yang bisa selamat karena menuruti hukum. Keselamatan hanya dapat diperoleh melalui kasih karunia, pemberian gratis dari Yesus Kristus, dan kita menerimanya melalui iman, bukan melalui perbuatan baik. Hukum berfungsi hanya sebagai cermin untuk menunjukkan dosa di dalam hidup kita. Dan sama seperti cermin hanya bisa menunjukan noda di wajah kita tetapi tidak bisa membersihkannya, pembersihan dan pengampunan dari dosa datang hanya melalui kematian Yesus Kristus.

9. Lalu mengapakah hukum itu sangat penting untuk menyempurnakan karakter pengikut Kristus?

Takutlah akan Tuhan dan berpeganglah pada perintah-perintahNya, karena ini adalah Kewajiban setiap orang.” (Pengkhotbah 12:13).

Justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” (Roma 3:20).

Jawab: Karena pola atau kewajiban untuk hidup sebagai pengikut Kristus terdapat didalam Hukum Tuhan. Seperti anak 6 tahun yang membuat penggarisnya sendiri, lalu mengukur tinggi badannya sendiri, lalu berkata kepada ibunya bahwa tingginya 3 meter, standar yang kita ciptakan sendiri pasti tidak aman. Kita tidak tahu apakah kita orang berdosa atau tidak kecuali kita menatap dengan seksama standar yang sempurna itu yaitu Hukum Tuhan. Banyak orang berpikir bahwa dengan melakukan perbuatan baik akan menjamin keselamatan mereka walaupun mereka tidak mematuhi hukum Tuhan. (Matius 7:21-23) Orang-orang tersebut berpikir bahwa mereka adalah orang benar dan pasti selamat padahal sesungguhnya mereka adalah orang yang berdosa dan tersesat. “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Tuhan, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.”(l Yohanes2:3).

10. Apa yang memungkinkan umat Tuhan yang sungguh-sungguh bertobat untuk mengikuti Hukum Tuhan?

“Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka…” (Ibrani 8:10).

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).

“Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri… supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita.” (Roma 8:3, 4).

Jawab: Kristus bukan hanya mengampuni orang berdosa yang bertobat, tetapi Dia juga memulihkan mereka kembali kepada rupa Tuhan. Dia membawa orang berdosa kedalam keselarasan dengan Hukum-Nya melalui tuntunannya kepada kita. “setiap perintah Jangan …” menjadi janji yang positif bahwa seorang Kristen tidak akan mencuri, berdusta, membunuh, dan yang lainnya karena Yesus hidup di dalam hati dan memegang kendali. Tuhan tidak mungkin merubah hukum-hukumNya, tetapi Dia membuat janji melalui Yesus Kristus untuk merubah orang berdosa agar dia bisa mencapai standar hukum tersebut.

11. Apakah orang Kristen yang beriman dan hidup dibawah kasih karunia dibebaskan dari menuruti hukum?

Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!” (Roma 6:14, 15).

“Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya.” (Roma 3:31).

Jawab: Tidak! Alkitab mengajarkan yang sebaliknya. Kasih karunia Tuhan itu bagaikan surat amnesti untuk seorang pelanggar hukum. Surat itu mengampuni dia, tetapi tidak memberinya kebebasan untuk melanggar hukum yang lain. Orang yang sudah diampuni dan hidup dibawah kasih karunia justru ingin menuruti hukum Tuhan karena rasa terima kasihnya yang besar karena sudah diselamatkan. Seseorang yang menolak untuk mematuhi hukum Tuhan dengan berdalih bahwa dia hidup di bawah kasih karunia melakukan kesalahan yang fatal.

12. Apakah Sepuluh Hukum Tuhan tetap ada di Perjanjian Baru?

Jawab: Ya, dan itu sangat jelas. Mari kita baca yang berikut ini dengan sangat teliti.

13. Apakah Hukum Tuhan dan hukum Taurat Musa itu sama?

Jawab: Tidak. Mari kita pelajari catatan berikut dengan teliti:

Hukum Musa adalah hukum upacara yang bersifat sementara yang berlaku di zaman Perjanjian Lama. Hukum tersebut mengatur keimamatan, kurban-kurban, upacara-upacara, persembahan-persembahan daging kurban, korban curahan, dan bermacam hal lainnya yang merupakan pertanda pengorbanan Yesus di kayu salib. Hukum upacara Musa ini ditambahkan kepada Sepuluh Hukum “sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu”, dan keturunan itu adalah Yesus Kristus (Galatia 3:16, 19). Upacara-upacara dari hukum Musa itu menunjuk ke masa depan saat pengorbanan Yesus Kristus. Sewaktu Dia mati, hukum Musa berakhir, tetapi Sepuluh Hukum “kokoh untuk seterusnya dan selamanya” (Mazmur 111:8). Daniel 9:10, 11 menyatakan dengan jelas bahwa ada 2 jenis hukum.

Catatan: Hukum Tuhan Sudah ada bahkan sebelum ada dosa. Sementara Hukum Musa ditambahkan sesudah manusia jatuh kedalam dosa. Bagaimana mungkin seseorang dihukum dan dikatakan bersalah kalau dia tidak melanggar hukum. Alkitab mengatakan, “di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran [dosa].” (Roma 4-15). Jadi Sepuluh Hukum Tuhan ada sejak semula. Manusia melanggar hukum tersebut (berdosa – I Yohanes 3:4). Karena dosa (pelanggaran Hukum Tuhan), hukum Musa diberikan (atau ditambahkan – Galatia 3:l6, 19) sampai Yesus Kristus datang ke bumi dan mati. Ada dua jenis hukum disini: Sepuluh Hukum Tuhan dan hukum upacara Musa. Dan perbedaannya sangatlah mencolok. Tuhan memberikan prioritas, tempat, waktu dan sifat yang sangat tinggi terhadap Sepuluh hukum dibanding dengan Hukum Musa.

14. Bagaimana perasaan Iblis melihat orang-orang menjalani hidupnya sesuai dengan 10 Hukum Tuhan?

“Maka marahlah naga itu [Iblis] kepada perempuan itu [umat Tuhan}, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Tuhan [Sepuluh Hukum].” (Wahyu 12:17).

“Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Tuhan.” (Wahyu 14:12).

Jawab: Iblis membenci orang-orang yang meninggikan Hukum Tuhan karena Hukum itu adalah pola untuk hidup yang benar, jadi tidak mengherankan bahwa Iblis menentang semua yang meninggikan Hukum Tuhan. Dalam perangnya melawan standar kesucian Tuhan dia bahkan menggunakan para pemimpin agama untuk menyangkal 10 hukum sambil secara bersamaan meninggikan tradisi-tradisi manusia. Tentu saja Yesus berkata, “Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.” (Matius 15:3, 9). Dan Daud juga berkata, “Waktu-Mu untuk bertindak telah tiba, ya TUHAN; karena mereka telah merombak Taurat-Mu.” (Mazmur 119:126). Umat Tuhan harus bangun dan memulihkan Hukum Tuhan kepada posisinya yang paling benar yaitu didalam hati dan kehidupan kita semua.

15. Apakah Anda percaya bahwa umat Tuhan harus menuruti Sepuluh Perintah Tuhan? (pertimbangkan ulasan diatas dan jawablah dalam hati)

PERTANYAAN LAIN

1. Bukankah Alkitab mengatakan bahwa perjanjian pertama melalui hukum Tuhan diatas batu itu cacat?

Tidak. Alkitab mengatakan bahwa manusialah yang bercacat (berdosa). Tuhan mendapatkan kesalahan pada mereka (Ibrani 8:7-8 KJV). Tidak ada yang salah dengan perjanjian itu, hukum Tuhan tidak salah, dan Tuhan tidak melanggar perjanjianNya, yang bersalah dan melanggar adalah manusia. Orang Israel yang melanggar perjanjian pertama dengan mereka menyembah anak lembu emas. Dan Roma 8:3 mengatakan bahwa Hukum “tak berdaya oleh daging” Selalu seperti itu ceritanya. Hukum itu sempurna, tetapi manusia yang bercacat, atau lemah. Jadi Tuhan mengutus anakNya untuk hidup di antara umat-umatNya “supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita” (Roma 8:4) melalui tuntunan Tuhan didalam hati.

2. Galatia 3:13 mengatakan bahwa kita ditebus “dari kutuk hukum Taurat”. Bagaimana menjelaskan hal ini?

Upah dosa ialah maut. Roma 6:23. Yesus Kristus “mengalami maut bagi semua manusia” (Ibrani 2:9). Itu artinya Dia menebus semua manusia dari kutuk hukum yang adalah maut dan menggantikannya dengan jaminan hidup yang kekal.

3. Bukankah Kolose 2:14-17 dan Efesus 2:15 mengajarkan bahwa hukum Tuhan berakhir pada kayu salib?

Tidak. Yang dimaksud dalam ayat-ayat itu adalah hukum yang mengandung “ketentuan-ketentuan” atau hukum upacara Musa yang mengatur sistem kurban dan keimamatan. Semua upacara ini menunjuk ke depan pada salib Yesus Kristus dan berakhir pada saat kematian Yesus Kristus seperti yang sudah direncanakan Tuhan. Hukum upacara Musa ditambahkan “sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu” dan keturunan itu adalah Kristus (Galatia 3:19, 16). Yang dimaksud di sini bukanlah Sepuluh hukum Tuhan, sebab Paulus yang sama mengatakan Taurat Tuhan itu “kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik” bertahun-tahun setelah Yesus disalibkan. (Roma 7:7, 12) dan dia mengajarkan kepada umat Tuhan di Perjanjian baru baik yahudi maupun bangsa lain untuk memegang sepuluh hukum : jangan mengingini (hukum ke-10 ; Rm 7:7), hormatilah ayahmu dan ibumu (hukum ke 5 ; Ef 6:2). Lihat tabel di pertanyaan No. 12 untuk lebih lengkap.

4. Alkitab mengatakan, “kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” (Roma 13:10). Matius 22:37-40 memerintahkan kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia, dan ayat itu ditutup dengan kata-kata “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Apakah kedua hukum itu menggantikan Kesepuluh Hukum?

Tidak. Kesepuluh hukum bergantung pada kedua hukum tersebut bagaikan sepuluh jari bergantung pada kedua tangan kita. Tidak bisa dipisahkan. Kasih kepada Tuhan membuat kita menuruti keempat hukum pertama (yang mengatur hubungan kita dengan Tuhan) menjadi sebuah sukacita, dan kasih kepada sesama manusia membuat penurutan pada keenam hukum berikutnya (yang mengatur hubungan kita dengan manusia) menjadi sebuah kesenangan. Kasih menggenapi hukum Taurat dengan cara menghilangkan perasaan terbebani oleh penurutan terhadap hukum tersebut dan membuat kepatuhan pada hukum tersebut menjadi suatu sukacita (Mazmur 40:9). Saat kita benar-benar mengasihi seseorang maka menuruti permohonannya akan menjadi sebuah kesukaan bagi kita. Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15). Tidak mungkin mengasihi Tuhan tetapi tidak menuruti hukum-hukumnya, sebab Alkitab berkata, “Sebab inilah kasih kepada Tuhan, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat” (I Yohanes 5:3). “Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.” (1 Yohanes 2:4).

tambahan: bahasa Alkitab yang dipakai menggambarkan perjanjian Tuhan dengan bangsa Israel adalah Covenant, yaitu seperti sebuah perjanjian nikah, dan sepuluh hukum adalah sumpah nikahnya. Bayangkan ada pria dan wanita yang mau menikah dan akan mengucapkan "a wedding vow" dimana kedua pasangan bersumpah satu sama lain untuk saling mencintai dalam keadaan apapun dan setia bahkan sampai kepada kematian. Inilah yang dilakukan Tuhan Yesus sebagai mempelai pria, Dia mencintai dan mengorbankan nyawa-Nya untuk mempelai wanita-Nya bahkan untuk seluruh dunia. Kalo anda mencintai pasangan Anda, maka Sumpah Nikah dengan sukacita dan sepenuh hati anda akan lakukan, itu menjadi Kesukaan bukan jadi beban. Salah satu sumpah Nikah adalah setia terhadap pasangan, tidak ada wanita/pria lain, tidak melakukan perzinahan. Apakah karena kita setia melakukan perjanjian / sumpah nikah ini membuat kita menjadi "Legalis" ? apakah ini bentuk Legalism ? ataukah ini bentuk Kasih kita kepada pasangan ? demikianlah barangsiapa yang didorong atas dasar kasih kepada Allah untuk memegang teguh hukum Tuhan bukanlah Legalism. Tapi kalo pasangan tidak jatuh cinta / tidak punya cinta sejati, Sumpah Nikah akan jadi beban. Sepuluh hukum Tuhan akan menjadi beban kalo kita tidak tinggal dalam KasihNya. Legalism Theology yang mengatakan bahwa agar seseorang diselamatkan harus melakukan sistem peraturan atau hukum, menempatkan hukum diatas Injil, diatas kasih karunia supaya seseorang diselamatkan adalah sangat bertentangan dengan Alkitab. Dan kami tidak mengajarkan hal itu bahkan menentangnya. Sekali lagi manusia diselamatkan karena kasih karunia, melalui iman oleh karya pengorbanan Yesus diatas kayu salib.

5. Bukankah 2 Korintus 3:7 mengatakan bahwa hukum yang terukir dengan huruf pada loh-loh batu pasti akan pudar?

Tidak. Ayat itu mengatakan bahwa pelayanan Musa perihal Sepuluh Hukum itu akan pudar tetapi bukan Sepuluh Hukum itu sendiri. Baca lagi 2 Korintus 3:3-9 dengan teliti seluruhnya. Inti ayat-ayat itu bukan menghilangkan sepuluh hukum atau dasar 10 hukum tersebut, tetapi berpindahnya lokasi Sepuluh Hukum itu dari yang tertulis di atas batu ke dalam hati manusia. Pada zaman Musa, Sepuluh Hukum itu tertulis di atas loh batu. Pada zaman Perjanjian Baru, di bawah pelayanah Roh Tuhan melalui iman pada Yesus Kristus, Sepuluh Hukum itu dituliskan di dalam hati manusia (Ibrani 8:10) Sebuah peraturan yang ditempel pada papan pengumuman sekolah hanya menjadi efektif jika peraturan itu masuk ke dalam hati murid-murid. Dengan demikian, menuruti perintah Tuhan bisa menjadi sukacita dan hidup yang membahagiakan karena umat Tuhan memiliki kasih yang tulus terhadap Tuhan dan manusia. Dari jaman perjanjian lama maupun perjanjian baru perlakuannya tetap sama, baca firman tertulis dan hapal firman belum tentu mengenal Tuhan (walaupun membaca firman dan menghapal ayat bagian penting dalam proses mengenal Tuhan). Firman tertulis itu harus masuk kedalam pikiran dan hati kita, menerangi kegelapan dan tinggal dalam diri kita dan kita dalam firmanNya, sehingga menghasilkan buah karakter Kristus, dan semuanya ini hanya bisa dilakukan oleh pertolongan Roh Kudus yang menegor dosa kita dan memimpin kita dalam kebenaran.

6. Roma 10:4 mengatakan bahwa “Yesus Kristus adalah kegenapan hukum Taurat”. Jadi Sepuluh Hukum sudah genap atau sudah berakhir bukan?

Tidak. Artinya jelas. Hukum Tuhan menuntun manusia pada Yesus Kristus, sepuluh hukum menunjukkan adanya dosa, dan menunutun kepada kebutuhan akan Juruselamat – di mana mereka bisa dibenarkan dan disucikan –adalah tujuan atau kegenapan akhir dari hukum. Tujuan akhir dari Hukum Tuhan adalah menunjukkan Kristus.

7. Kenapa banyak orang yang mengajarkan bahwa Hukum Tuhan sudah tidak berlaku lagi? (Roma 8:7).

“Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus” (Roma 8:7-9).

8. Apakah umat Tuhan di Perjanjian Lama diselamatkan karena menurut Sepuluh Hukum?

Tidak ada satu manusia pun yang diselamatkan karena menuruti hukum. Semua orang yang diselamatkan dari segala zaman diselamatkan hanya karena anugerah (kasih karunia). “Kasih karunia… dikaruniakan kepada kita dalam Yesus Kristus sebelum permulaan Zaman.” (2 Timotius 1:9). Sepuluh Hukum hanya menunjukkan dosa. Yesus Kristus yang menyelamatkan. “Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN” (Kejadian 6:8); Musa mendapat kasih karunia (Keluaran 33:17); bangsa Israel mendapat kasih karunia (Yeremia 31:2); dan Habel, Henokh, Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, dan banyak tokoh Perjanjian Lama diselamatkan “karena iman” menurut Ibrani 11. Mereka diselamatkan karena memandang ke masa depan, kepada peristiwa di Golgota, sedangkan kita diselamatkan karena memandang ke belakang pada peristiwa tersebut. Sepuluh Hukum itu penting sebab seperti cermin Sepuluh Hukum menunjukkan kotoran-kotoran dalam kehidupan kita. Tanpa Sepuluh Hukum manusia yang berdosa tidak akan sadar bahwa dia berdosa. Tetapi walau begitu Sepuluh Hukum tetap tidak bisa menyelamatkan. Hanya bisa menunjukkan dosa. Yesus Kristus, dan hanya Yesus Kristus saja, yang bisa menyelamatkan manusia dari dosa. Ini adalah kebenaran sejak semula dari zaman Perjanjian Lama. (Kisah 4:10, 12; 2 Timotius 1:9).

9. Kenapa harus repot-repot mempelajari Sepuluh Hukum? Bukankah kata hati atau hati nurani saja sudah cukup sebagai penuntun hidup yang bisa dipercaya?

Tidak! Percaya pada hati sangatlah berbahaya! Alkitab membicarakan tentang adanya hati nurani yang licik, hati nurani yang tercemar, dan hati yang membatu – semuanya itu tidak bisa dipercaya. “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12). Tuhan berkata, “Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal.” (Amsal 28:26).

Artikel diatas diambil dari Amazing Facts

Untuk Anda yang mau belajar lebih dalam tentang Kebenaran Firman Tuhan, silakan email ke 3AM@threeangelsmedia.com.

Dapatkan pemberitahuan langsung ke email Anda

setiap kami menerbitkan artikel terbaru

  • Facebook Social Icon
  • Instagram
  • YouTube
  • 2b926d_8338b6857b6e46a3a5d467e1ce88e42a_mv2

©2017 THREE ANGELS MEDIA

JAKARTA, INDONESIA