• Roy Pitoy

PERSEKUTUAN




“Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini” 

Filipi 1:5


Saya ingat pertama kali sampai di Jakarta pada tahun 2005 untuk berkuliah di salah satu Universitas swasta. Hal yang dipesankan oleh orang tua saya untuk lakukan adalah mencari Gereja terdekat, supaya saya bisa beribadah pada rabu malam, vesper dan sabat. Supaya saya memiliki saudara dalam Yesus.


Akhirnya saya menemukan sebuah Gereja yang tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Masih hangat dalam ingatan saya bagaimana Sabat pertama saya disana, saya datang, duduk di kursi paling belakang, menyalami pengkhotbah, dan kemudian pulang, tanpa mengenali siapapun disana dan tanpa ada yang sekadar bertanya siapa dan darimana.


Pengalaman pertama bergereja di tempat lain, karena sejak kecil saya selalu bergereja bersama orang tua saya.

Namun tidak semua Gereja seperti itu, selama merantau saya mencoba berpindah Gereja, baik karena ada teman saya di Gereja itu atau sekadar mencoba bergereja disana. Ada Gereja yang ramah, peduli dan ramah dengan jabat tangan yang erat, “memaksa” mengundang makan dan tinggal hingga acara Pendalaman Alkitab, ada Gereja yang dingin, tidak terlalu perduli dan masa bodo.


Tapi apakah senyum hangat pada Sabat pagi dan jabat tangan yang erat itu cukup disebut persekutuan?

Persekutuan berasal dari kata “Koinonia” yang berarti persahabatan, perkumpulan, umat yang memiliki kesamaan, hubungan erat hingga dapat membagikan apa yang dirasakan dan dipikirkan, partisipasi bersama, membagikan semua yang dimiliki, kontribusi.


Dan persekutuan adalah asal mula Gereja, Gereja mula-mula berdiri karena ada sekumpulan orang percaya akan Yesus yang mati di salib dan bangkit kemudian naik ke surga, dan mereka memiliki hubungan yang sangat erat. Persekutuan itulah yang kemudian menjadi Gereja. Bukan sebaliknya.


Kata persekutuan pertama kali muncul dalam Kis 2:42, tepat setelah murid-murid menerima Roh Kudus, lalu Petrus berkhotbah dan 3000 orang dibaptiskan. Ayat itu berbunyi : “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa”.

Apakah yang mereka lakukan? Persekutuan seperti apa yang ada pada saat itu? Apakah mereka hanya datang pada hari sabat untuk duduk diam dan pulang kemudian mengulangnya setiap minggu?

Kisah 2:44-47 menjelaskan persekutuan seperti apa yang ada pada orang percaya mula-mula.


Ayat 44: Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama


Ayat 45: dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.


Ayat 46: Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati.


Ayat 47: sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.


Betapa persekutuan yang indah, bersatu, segala kepunyaan mereka adalah milik bersama, menjual harta untuk dibagikan kepada orang yang membutuhkan, sehati, berkumpul setiap hari, memecahkan roti, makan bersama dengan gembira dan tulus.


Hasil dari persekutuan ini adalah mereka disukai semua orang dan Tuhan MENAMBAH jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. Betapa pekerjaan Tuhan bisa maju pesat dengan cara bersekutu yang seperti ini.


Hal yang mereka lakukan bukanlah sesuatu yang hanya manis diluar (tampilan saja). Ini bukan sekedar salam dan senyum seorang penerima tamu di hari Sabat dan lupa akan saudaranya pada minggu bekerja.


Ini bukan persekutuan hanya karena satu suku, satu nasib, satu almamater, satu tujuan, satu visi. Ini adalah persekutuan karena mereka mendengar Berita Injil (Bahwa Yesus adalah Tuhan yang telah mati bagi mereka untuk menebus dosa, dan Ia sudah bangkit, menang atas dosa, dan naik ke surga untuk menjadi Imam Besar yang mengantarai umat-Nya) dan Roh Kudus.


Persekutuan seperti ini tidak bisa dicapai jika tidak melekat pada pokok anggur (Yesus)

Yesus berkata dalam Yohanes 15:5 “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”.


Persekutuan dengan Yesuslah yang menyebabkan kita berbuah dan dapat bersekutu dengan sesama. Yohanes menyampaikan dalam 1 Yoh 1:3

“Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga (Berita Injil), supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus”.

Catatan : dalam tanda kurung di tambahkan


Persekutuan inilah yang dirasakan dan disyukuri oleh Paulus selama dia berada dalam penjara, yang dapat menguatkan dirinya. Persekutuan yang timbul karena mendengar Berita Injil, mengambil keputusan untuk bersekutu dengan Bapa dan Yesus sehingga Roh Kudus akan menyanggupkan dan menyempurnakan persekutuan itu.

Usaha lahiriah dan kedagingan tidak mungkin memampukan untuk dapat bersatu, menganggap milik kita adalah milik bersama, menjual harta untuk dibagikan kepada yang membutuhkan, bertekun, sehati, memecah roti, makan bersama dengan gembira dan tulus hati, serta memuji Allah. Hanya dengan pengenalan akan Firman Allah (Berita Injil) dan kuasa Roh Kudus kita dapat memiliki persekutuan ini. 


Dan Tuhan akan menambahkan orang percaya, orang yang mencari Dia kedalam persekutuan seperti ini. Karena orang-orang ini tidak akan dibiarkan hilang, tidak akan ditinggalkan sendiri, namun akan dikuatkan oleh persekutuan.


35 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Dapatkan pemberitahuan langsung ke email Anda

setiap kami menerbitkan artikel terbaru

  • Facebook Social Icon
  • Instagram
  • YouTube
  • 2b926d_8338b6857b6e46a3a5d467e1ce88e42a_mv2

©2017 THREE ANGELS MEDIA

JAKARTA, INDONESIA